NATUNA | MNI ■ Terkait sikap Bupati Cen Sui Lan Lontarkan kalimat “Tidak Masuk” Ke Wartawan Koran Perbatasan, tokoh vokal yang juga mantan dosen unrika, Ta’in Komari angkat bicara, sebagai seorang pemimpin seharusnya bersikap elegan dan tidak sentimentil. “Pemimpin itu harusnya merangkul. Tidak boleh bersikap dan bertindak atas dasar like and dislike” katanya kepada media, Senin (26/10) di Batam Center.
Menurut Cak Ta’in, pemimpin itu harus siap dikritik terkait semua kebijakannya. Bahkan siap dihujat dan dipersalahkan terhadap suatu kondisi.
“Itu konsekuensi dari jabatan publik yang diembannya. Ketika berani mengambil posisi sebagai pemimpin, maka melekat dalam dirinya tanggung jawab dan resiko yang ada,” jelasnya.
Cen Sui Lan melontarkan kalimat sentimentil terhadap wartawan koran perbatasan saat acara makan bersama wartawan di restoran ajo basamo di Natuna pada Jum’at (23/10) dengan rangkaian pertanyaan, ‘koran.perbatasan ya?,’ ucapnya, kemudian dilanjut dengan kalimat ‘tidak masuk’.
Koran Perbatasan merupakan media yang senantiasa menyajikan berita dan informasi kritik tajam. Kekritisan itu diduga menjadi penyebab sikap sentimentil Bupati Natuna dan terlontar begitu saja saat itu.
Amran sendiri telah meminta klarifikasi terbuka dari Bupati Cen terkait ucapannya kepada wartawan Koran Perbatasan.
Bagi Amran, persoalan ini bukan semata-mata tentang hubungan antara seorang kepala daerah dan satu perusahaan media. Persoalan tersebut juga menyangkut bagaimana wartawan diperlakukan ketika menjalankan tugas jurnalistik di ruang publik.
Lebih lanjut Cak Ta’in mempertanyakan apakah ucapan “tidak masuk” memiliki maksud tertentu terhadap Koran Perbatasan atau berkaitan dengan persoalan lain yang belum dijelaskan kepada pihak media.
“Pers bukan lawan pemerintah. Mereka memiliki tugas untuk menyampaikan informasi dan menjalankan fungsi kontrol sosial. Pemerintah boleh menjelaskan, membantah, atau mengoreksi pemberitaan melalui jalur yang tepat.” urainya.
Cak Ta’in mengingatkan sikap sentimentil itu bisa berkembang pada arogansi personal karena jabatan dan kekuasaan. Harusnya bersikap arif bijaksana dalam menyikapi semua kondisi dan fenomena yang terjadi. “Tidak perlu alergi terhadap kritik,” tegasnya.
“Jabatan itu sementara, paling lama 10 tahun jadi bupati, itupun kalau bisa dua periode. Jadi penting menjaga hubungan yang baik dengan semua pihak, sehingga ketika sudah tidak menjabat hubungan itu tetap baik,” tandasnya.
Amran Pertanyakan Maksud dan Tujuan Bupati Cen Sui Lan Lontarkan kalimat “Tidak Masuk” Ke Wartawan Koran Perbatasan.
Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, Amran, pertanyakan tujuan dan maksud ucapan Bupati Cen kepada wartawan Koran Perbatasan yang ditugaskan menghadiri sekaligus meliput kegiatan makan siang bersama rekan- rekan wartawan di Restoran Ajo Basamo, Jumat (23/10/2026).
Amran, juga meminta klarifikasi terbuka dari Bupati Cen,terkait ucapannya kepada wartawan Koran Perbatasan. Keterangan Amran ke media ini, Cen Sui Lan menyampaikan kalimat, “tidak masuk” Amran mempertanyakan maksud ucapan itu.
Sejumlah rekan wartawan yang memberikan keterangan kepada Amran, membenarkan ucapan tersebut. Suara Cen Sui Lan terdengar keras. Bahkan, seorang wartawan yang mengaku duduk cukup jauh dari posisi Bupati, menyampaikan bahwa dirinya masih dapat mendengar ucapan yang menyebut Koran Perbatasan dan kata “tidak masuk”.
Bagi Amran, persoalan ini bukan semata-mata tentang hubungan antara seorang kepala daerah dan satu perusahaan media. Persoalan tersebut juga menyangkut bagaimana wartawan diperlakukan ketika menjalankan tugas jurnalistik di ruang publik.
Ia mempertanyakan apakah ucapan “tidak masuk” memiliki maksud tertentu terhadap Koran Perbatasan atau berkaitan dengan persoalan lain yang belum dijelaskan kepada pihak media.
“Pers bukan lawan pemerintah. Kami memiliki tugas untuk menyampaikan informasi dan menjalankan fungsi kontrol sosial. Pemerintah boleh menjelaskan, membantah, atau mengoreksi pemberitaan melalui jalur yang tepat. Namun, penghormatan terhadap wartawan harus tetap dijaga,” Amran menegaskan.
Bagi Amran, persoalan ini tidak semata-mata menyangkut perasaan seorang wartawan, tetapi juga menyangkut bagaimana pejabat publik memperlakukan insan pers di ruang terbuka. Sikap saling menghormati diperlukan agar komunikasi antara pemerintah dan media tetap berjalan secara profesional.
Atas kejadian tersebut, Amran meminta dengan tegas agar Cen Sui Lan menjelaskan maksud ucapannya dan alasan mengapa pernyataan itu ditujukan kepada wartawan Koran Perbatasan. Ia juga meminta Bupati memberikan klarifikasi yang dapat menjernihkan persoalan serta mencegah munculnya berbagai dugaan di tengah masyarakat.
Media news indonesia, membuka ruang bagi bupati Cen, untuk menyampaikan penjelasan dan tanggapan. (Tim)





