BATAM | MNI ■ Wacana pembentukan Provinsi Batam kembali digaungkan beberapa kalangan di tahun 2025-2026. Namun perlu diketahui bahwa sesungguhnya, wacana itu sudah pernah muncul beberapa kali yaitu pada tahun 2017 dan bahkan jauh sebelumnya di tahun 2000, sebelum Provinsi Kepri terbentuk.
Keberadaan dua lembaga di Batam Pemko dan BP Batam, meski sekarang dipimpin tunggal oleh Walikota Batam melalui jabatan ex-officio, tetap saja memunculkan kontroversi dan persaingan internal, apalagi sejak terbitnya PP 25 dan 28 tahun 2025.
“Provinsi Batam itu solusi tepat mengatasi berbagai masalah yang ada, baik tata pemerintahan, sampai urusan kewenangan. Tapi bentuknya harus Provinsi Khusus. Wacana ini sudah beberapa kali muncul,” kata Cak Ta’in Komari, salah satu inisiator dan sekretaris Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Khusus Batam (BP3KB ) kepada media news indonesia Selasa (10/2).
Menurut Cak Ta’in, pemikiran dan perjuangan untuk pembentukan Provinsi Khusus Batam itu bagus. Namun perlu dirumuskan lebih cermat, sebab butuh keseriusan ekstra untuk mewujudkan itu. Jangan sampai seperti yang sudah-sudah ‘layu sebelum berkembang’ hanya sekedar wacana. “Ini bukan sekedar soal gagasan dan cerita, tapi perlu aksi nyata,” ujarnya.
Menurut mantan jurnalis, akademisi dan staf ahli DPRD itu, ketika wacana itu dimunculkan dipastikan akan ada kontroversi, terutama yang terkait dengan keberadaan Provinsi Kepri. Bagaimanapun Kepri tanpa Batam bakal bubar, sebab keberlangsungan Provinsi Kepri itu dari Batam. Sementara bagi Batam, wacana itu akan menjadi solusi dari semua polemik permasalahan yang ada.
Cak Ta’in sedikit menceritakan kisah terbentuknya BP3KB pada tahun 2017. Waktu itu yang terlibat beberapa tokoh penting Batam, seperti Soerya Respationo sebagai Ketua Dewan Pembina, Taba Iskandar sebagai Ketua, Asmin Patros, Rahman Usman, Irsyafwin, Fachry Agusta, Choirul Rully Adam, Sukhri Farial dan lainnya. Cak Ta’in sendiri menjabat sekretaris badan perjuangan tersebut. “Dengan orang-orang sekaliber mereka saja rontok sebelum benar-benar bergerak,” kenangnya.
Lebih lanjut Cak Ta’in menjelaskan, perjuangan itu bukan hanya sekedar lempar wacana, bahkan gagasan dan konsepnya harus jelas, terlebih kesiapan finansial untuk pergerakan perjuangan tersebut. Terlalu banyak tantangan dan godaan untuk bisa mewujudkan itu, dan harus digerakkan oleh orang-orang yang ikhlas dan memahami konsep Provinsi Khusus tersebut.
“Perlu konsolidasi yang intern dan serius dengan melibatkan banyak kalangan. Perlu dimatangkan konsep gagasannya di tingkat Batam, sebelum bergerak ke Jakarta. Itu yang berat, apalagi mau menyelaraskan berbagai kepentingan yang ada.” Jelasnya.
Cak Ta’in sendiri telah membukukan konsep dan gagasan tentang pentingnya pembentukan Provinsi Khusus Batam (Barelang) yang diterbitkan tahun 2017, sebelum perjuangan tersebut benar-benar layu terkulai lemas, kemudian menguap hilang tak berkesan. Bahkan saat itu, BP3KB didukung penuh oleh mantan Ketua OB dan Presiden Indonesia, Prof. B.J Habibie. Jadi kalau tiba-tiba muncul lagi yang membuka wacana itu, dirinya tidak terlalu kaget dan ingin melihat seberapa keseriusannya.
“Kami sempat berdiskusi dan berdialog dengan Pak Habibie di Mega Mall waktu itu, bersama Pak Rahman Usman dan Irsyafwin. Akhirnya Pak Habibie membuka ide itu pada suatu pertemuan di Nongsa Point, yang kemudian dirilis berbagai media. Kami bahkan sempat konsultasi dengan ahli hukum Tata Negara, Prof. Jimly Asshiddiqie atas arahan Pak Habibie. Ternyata semua itu tidak cukup untuk melanjutkan perjuangan.” terangnya.
Maka dari itu, lanjutnya, membuka wacana hanya dengan berkoar di media itu cuma manufer personal, yang mungkin sedang cari panggung. Ide membentuk provinsi itu bagus dan wajib, tapi jangan sekedar ‘omon-omon’. Perlu niat ekstra kuat, perlu perjuangan ekstra, perlu jiwa pengorbanan ekstra, harus siap tenaga pikiran dan utamanya finansial. “Tanpa itu semua bakal hanya wacana,” ucapnya.
“Potensi Batam menjadi Provinsi itu sangat besar, jika tahu caranya. Harus provinsi khusus, kalau provinsi biasa secara administrasi saja sudah gugur. Sumber daya yang ada sangat memadai untuk menbentuk provinsi khusus itu. Anggaran Pemko Batam dan BP Batam jika digabungkan jelas tak sebanding dengan Provinsi Kepri. Ya kita lihat dulu lah bagaimana wacana itu bisa berkembang,” tandasnya. (Hanpu)





